Home » » BELAJAR DARI DUSUN KALI BENTAK DESA PANGGUNGREJO KECAMATAN PANGGUNGREJO KABUPATEN BLITAR TENTANG HAKEKAT PNPM MANDIRI PERDESAAN

BELAJAR DARI DUSUN KALI BENTAK DESA PANGGUNGREJO KECAMATAN PANGGUNGREJO KABUPATEN BLITAR TENTANG HAKEKAT PNPM MANDIRI PERDESAAN

Dipublikasikan Oleh PNPM Mandiri Perdesaan Jawa Timur pada Senin, 12 November 2012 | 14.50


Portal menuju jalan masuk dusun Kali Bentak
1.    Modal Sosial
   

Dusun Kali Bentak adalah salah satu dusun di Desa Panggungrejo, Kec. Panggungrejo di wilayah Blitar Selatan, dimana kondisi topografinya bertypikal pegunungan selatan jawa yang bergunung, tanah lempung berbatu dan sulit air. Tanaman yang ada umumnya tanaman keras seperti jati, waru gunung, atau ladang jagung, lombok, singkong, sedangkan padi hanya dapat ditanam pada saat musim penghujan. Populasi di dusun ini berjumlah 319 KK, budaya gorong royong dan hidup rukun saling membantu masih sangat kental terpelihara. Pembangunan sarana prasarana umum di dusun ini lebih banyak dilakukan melalui upaya warga sendiri, mengoptimalkan potensi yang ada, dan tidak hanya mengandalkan meminta-minta dari pemerintah. Pak Kateni, Kepala Dusun Kali Bentak menjelaskan, ”Alhamdulillah, kerukunan warga disini masih terjaga, contohnya kalau hanya mengerjakan pasang atap rumah, warga tersebut tidak perlu biaya, cukup menyediakan singkong rebus dan teh saja, semua warga siap gotong royong”. 

2.    Pelaksanaan PNPM MPd

Kecamatan Panggungrejo telah mendapakan alokasi Program PNPM MPd sejak tahun 2002. Pada tahun 2002 tersebut, sebenarnya usulan jalan rabat beton Dusun Kali Bentak dianggap sangat layak oleh Tim Verifikasi dan mendapat prioritas pada MAD Prioritas di kecamatan. Kondisi jalan saat itu sangat sulit untuk dilalui oleh sepeda motor apalagi kendaraan roda 4. Jalan menikung, menanjak, dan licin penuh kubangan pada saat musim penghujan. Anak-anak sekolah dipastikan menenteng sepatunya dari rumah sampai dekat jalan aspal, dan baru memakainya setelah sampai di jalan beraspal. Mendorong dan menarik sepeda motor atau kendaraan roda 4, sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh warga di sekitar jalan tersebut. Meskipun usulan ini sudah dinyatakan layak dan terdanai, namun muncul kecemburuan dari dusun-dusun yang lain, sehingga terjadi tarik ulur antar dusun. Sebenarnya warga Dusun Kali Bentak sudah mau mengalah dengan cara membagi 2 volume jalan dengan dusun lain, dengan konsekuensi masyarakat sanggup menambah swadaya, namun warga dusun lain tetap tidak mau. Karena situasi tidak terkendali, akhirnya Kepala Desa saat itu (Pak Tukul) memutuskan untuk mundur atau tidak mengambil alokasi Program PNPM MPd pada tahun itu. Keputusan Kades ini disikapi oleh warga dusun dengan perasaan ikhlas, legowo, atas nama kerukunan dengan warga dusun lain, meskipun proyek yang sudah di depan mata akhirnya sirna hilang, yang otomatis kesulitan akses jalan masih harus menjadi masalah sehari-hari.


Jalan dusun yang apik & gilar - gilar

Akhirnya pada tahun 2003, barulah jalan rabat beton ini benar-benar terdanai oleh PNPM MPd, yang waktu itu masih bernama Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Berkah ini disambut dengan antusias, dengan cara mengerahkan seluruh kemampuan dan potensi yang ada di dusun dan masyarakat. Swadaya diupayakan seoptimal mungkin, dalam bentuk uang, material kayu, batu, tenaga kerja dan juga konsumsi bagi warga yang ikut bekerja. Kayu untuk begisting berasal dari sumbangan warga, batu untuk levelling digali dari sekitar jalan, dan yang luar biasa adalah semua alokasi upah (HOK) disepakati untuk membeli semen agar volume jalan bertambah. Pelaksanaan pekerjaan mengutamakan kualitas, TPK tidak diperkenankan mengurangi ketebalan dan spesifikasi campuran karena akan berdampak pada kualitas dan umur jalan. ”Desain harus tetap mengikuti petunjuk fasilitator, karena kami mementingkan kualitas, kalau cepat rusak kan nanti menjadi masalah kami lagi”, kata Pak Kateni sang Kepala Dusun. ”Saya lihat jalan rabat beton di tempat lain banyak yang sudah rusak, padahal umurnya belum 3 tahun. Kalau jalan kami ini sejak 2003 sampai sekarang masih bagus seperti ini, tidak ada yang bludus, kalau sedikit retak ya memang kondisi tanahnya yang labil, coba jenengan lihat ini”, sambungnya lagi. Memang benar, cukup mengherankan, jalan rabat beton yang dibangun tahun 2003, telah berumur 10 tahun, kondisinya masih bagus, terawat baik saluran dan bahu jalannya. Gambar di atas adalah kondisi jalan yang dibangun tahun 2003. 


Dusun Kali Bentak mendapatkan alokasi PNPM MPd lagi pada tahun 2007 dan 2010, yang digunakan untuk pembangunan jalan rabat beton lagi. Pelaksanaan pekerjaanpun sama dengan tahun sebelumnya, dimana swadaya masyarakat tinggi dan kualitas sesuai spesifikasi. Bahkan pada tahun 2007, biaya sewa mollen (mesin pengaduk campuran/spesi) digunakan untuk membeli mesin mollen bekas seharga Rp. 2.700.000,-. ”Pokoknya mas, kami tidak pernah mengambil uang upah, itu kami gunakan untuk nambah beli semen”, kata pak Mukiat, sekretaris TP3. Pada tahun 2002, dusun ini juga mendapat bantuan Pemerintah Jepang melalui fasilitasi sebuah LSM untuk membangun sarana air bersih. Air bersih ini memanfaatkan 3 sumber mata air yang ada, dan dialirkan secara gravitasi melalui perpipaan dan ditampung pada 9 bak penampung. Pelaksanaan dikerjakan oleh warga sendiri, setelah selesai kemudian dibentuk Tim Pemelihara yang terdiri dari Pak Kusdiono, Pak Yateno dan Pak Mangil. Sampai saat ini sarana air bersih ini masih utuh dan tetap berfungsi dengan baik. Pak Kateni berujar, ”Kami bersyukur, sejak tahun 2003 itu setelah adanya PPK dan PNPM MPd rasanya dusun ini semakin maju, dan warga merasa sangat terbantu”.

3.    Pelestarian dan Pengembangan
   

Selain menerima bantuan pembangunan dari pemerintah, yang paling menarik sebenarnya adalah bagaimana warga dusun ini memelihara, melestarikan dan mengembangkan hasil pembangunan tersebut. Untuk jalan rabat beton ini, masyarakat telah membentuk Tim Pemelihara dengan susunan pengurus sebagai berikut :
1.    Penanggungjawab      :  Pak Kateni (Kepala Dusun)
2.    Ketua Pelaksana        :  Pak Mangil
3.    Sekretaris                 :  Pak Mukiat
4.    Bendahara                :  Pak Sunar dan Pak Suseno
 

Tim Pelestarian & Pengembangan

 Sampai tulisan ini dibuat, masyarakat yang dikomandoi oleh Tim Pemelihara ini telah melakukan perawatan jalan rabat beton, sehingga awet dan dapat dimanfaatkan terus, membenahi bahu jalan dan saluran. Setiap tahun selalu dilakukan pengembangan panjang jalan dengan biaya dari masyarakat sendiri, mulai dari 24 m, 70 m, 71 m, 25 m, 50 m, 40 m, 200 m, 195 m, dan seterusnya sampai tidak terasa panjang pengembangan jalan rabat beton ini sudah mencapai 1000 m lebih ditambah beberapa gapura jalan dusun. Setiap akan melaksanakan pembangunan, Tim Pemelihara melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1.    Musyawarah Dusun, dengan agenda menyampaikan kas yang ada, menyepakati sumbangan material yang disanggupi warga seperti kayu begisting, dan lokasi yang akan dikerjakan
2.    Kerja bhakti pengambilan batu di sekitar jalan untuk levelling
3.    Pengumpulan kayu oleh warga untuk begisting, ongkos gergaji ditanggung panitia
4.    Pembelian Semen, pasir dan kerikil dari uang kas
5.    Mollen yang digunakan adalah Mollen milik sendiri yang dibeli tahun 2007
6.    Kerja bhakti bergilir melaksanakan pengecoran
7.    Apabila masih ada kekurangan dana, dilakukan musyawarah menyepakati tambahan iuran.

Sumber dana atau kas pengembangan jalan diperoleh dari :

1.    Sumbangan masyarakat setiap kali panen, berkisar Rp. 5.000,- s/d Rp. 15.000,- per orang.
2.    Hasil portal masuk, retribusinya Rp. 2.000,- untuk kendaraan roda 4 dan Rp. 3.000,- untuk kendaraan roda 6. Penjaga portal mendapat komisi 40% dari pendapatan portal. Total pendapatan dari portal rata-rata per tahun bisa mencapai Rp. 2.000.000,-
3.    Penyewaan Mesin Mollen milik Tim Pemelihara, harga sewa untuk warga dusun Rp. 50.000,-/hari dan untuk warga luar dusun Rp. 100.000,-/hari, dan untuk sarana umum gratis. Total pendapatan dari persewaan mollen rata-rata per tahun bisa mencapai Rp. 1.000.000,-
4.    Sumbangan dari warga dusun yang menjadi TKI, besarnya tidak dapat dipastikan, namun sumbangan terbesar berasal dari TKI ini. Pernah suatu kali ada yang menyumbang semen 40 zak.

Tahun depan, 2013, Tim Pemeliharan berencana akan melakukan pengembangan lagi sepanjang 25 m. Dana kas yang ada saat ini sudah siap Rp. 2.500.000,- ditambah batu sudah dikumpulkan oleh masyarakat.


Kewajiban bersama untuk menjaga & memelihara jalan ini
Ketika ditanya tentang berapa panjang lagi jalan yang belum dikerjakan, Pak Kateni dan Pak Mukiat menjelaskan bahwa masih tersisa 1.500 m ke arah Desa Kaligambir yang menjadi beban untuk diselesaikan. Kalau dalam waktu 10 tahun warga mampu menambah panjang jalan secara swadaya 1.000 m, berarti butuh waktu 15 tahun untuk menyelesaikan jalan tersebut dengan kekuatan sendiri. Waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan hanya prasarana dasar bagi warga bangsa yang telah merdeka selama 67 tahun. ”Kami tidak usah dikasih uang, cukup dikasih semen saja lewat program semen mandiri, maka akan kami kerjakan sesuai aturan”, demikian komentar Pak Kateni menutup perjumpaan.




 4.    Hakekat Program Ada Disini
   

Sangat banyak pelajaran yang didapat dari Dusun Kali Bentak ini. Misi program PNPM MPd menampakkan hasilnya disini, bahkan hakekat program walaupun tidak dipahami tapi justru masyarakat telah secara tidak langsung memberikan contoh praktek yang sebenarnya. Beberapa hal penting yang patut menjadi catatan, antara lain :


1.    Legowo

Bahwa setiap cita-cita memang harus diperjuangkan dengan upaya yang sungguh-sungguh. Namun ketika hasilnya tidak sesuai harapan, maka hal tersebut jangan sampai dijadikan masalah yang berkepanjangan apalagi sampai menimbulkan perpecahan. Kedepan mesti dilakukan perbaikan terhadap kelemahan-kelemahan dan upaya lain seperti koordinasi dan pendekatan kepada para pihak.


2.    Utamakan Kualitas
Masyarakat sangat percaya bahwa kualitas akan menentukan umur jalan, dan ketika kualitas buruk maka yang menerima akibat kerusakannya adalah masyarakat itu sendiri sebagai pemanfaat. Pembangunan akan menjadi masalah, bukan berkah, ketika prasarana yang dibangun hanya asal jadi, dan tahun berikutnya menjadi beban pemeliharaan. Satu-satunya cara untuk menjaga kualitas adalah mematuhi spesifikasi gambar desain yang ada, karena mereka percaya bahwa spek itu telah teruji dan mengikuti standar dan kaidah-kaidah teknis konstruksi.

3.    Stimulan
Warga Dusun Kali Bentak tidak tahu arti kata stimulan, namun pada kenyataannya mereka telah memberi contoh implementasinya. Program ini hanya bertujuan memancing partisipasi dan kepedulian masyarakat untuk membangun desanya. PNPM MPd hanya memberi dana stimulan untuk membangun jalan 700 m, namun ikan yang didapat adalah kemampuan swadaya masyarakat membangun jalan 1000 m. Keberhasilan yang luar biasa.

4.    Berkelanjutan
Salah satu prinsip program yaitu Berkelanjutan inilah yang sebenarnya telah diterapkan secara ekselen oleh masyarakat Dusun Kali Bentak. Diawali dengan pembentukan Tim Pemelihara, menggali sumber dana dari potensi dusun yang ada, pemeliharaan rutin dan pengembangan terencana yang melibatkan masyarakat. Bekal pengetahuan dan keterampilan yang didapat selama adanya PNPM MPd sudah cukup untuk melanjutkan pembangunan dusun.

Sungguh ternyata misi program PNPM Mandiri Perdesaan telah mengejawantah, paling tidak pada masyarakat Kali Bentak yang diwakili Tim Pemelihara dan kerukunan masyarakatnya. Pengelolaan, hasil dan dampak nyata yang seringkali terhalang oleh komentar elite-elite di masyarakat. PNPM MPd sebenarnya ada disini, dan seolah-olah warga Dusun Kali Bentak berkata, ” Kalau mau tahu Hakekat Program PNPM MPd....datang saja ke Dusun Kali Bentak ” –

Kontributor:

  • Penulis : Ir. Kadarusman
  • Jabatan: Faskab Integrasi Kab. Blitar
Share this article :

0 comments:

Poskan Komentar

Silahkan ketikkan komentar Anda...

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Berita Seputar PNPM

Arsip lain Kategori ini »

Good Practices

Arsip lain Kategori ini »
Published by : Magister Pendidikan
Copyright © 2013. PNPM Mandiri Perdesaan - Jawa Timur - All Rights Reserved
Created and Support by A.M.C. Purnama
Proudly powered by Blogger